INDONESIA – FILIPINA SEPAKAT TINGKATKAN KESELAMATAN NAVIGASI PELAYARAN DI PERBATASAN KEDUA NEGARA

Xiamen, Tiongkok, 9 Maret 2018 —- Pemerintah Indonesia dan Filipina sepakat meningkatkan keselamatan navigasi pelayaran di perairan perbatasan kedua negara. Kesepakatan tersebut diwujudkan dalam kerjasama pembuatan peta laut dan Electronic Navigational Charts (ENC) bersama di perairan Laut Sulawesi da laut Filipina yang telah disepakati garisnya. Garis batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) kedua negara di perairan Laut Sulawesi dan Laut Filipina telah disepakati pada bulan Mei 2014.

Peta laut dan ENC yang dibuat Bersama ini tentu saja akan berpedoman pada ketentuan dan standar International Hydrographic Organization (IHO) yaitu Publikasi IHO S-4 (Regulations Of The IHO For International (INT) Charts And Chart Specifications Of The IHO dan S-57 Transfer Standard for Digital Hydrographic Data.

Pembuatan bersama peta laut dan ENC di perairan perbatasan antara Republik Indonesai dan Republik Filipina yang telah disepakati pada tahun 2014 merupakan salah satu upaya penyediaan ENC di Kawasan regional dalam rangka memenuhi persyaratan yang diberlakukan oleh International Maritime Organization (IMO) yang mewajibkan kapal-kapal dengan bobot tertentu untuk menggukanElectronic Chart Display and Information System (ECDIS) saat berlayar. Oleh sebab itu kantor hidrografi kedua negara sepakat untuk bersama-sama memberikan pelayanan untuk kepentingan keselamatan navigasi pelayaran bagi kapal-kapal yang melintas di perairan tersebut, sehingga para pengguna laut akan terjamin keselamatannya dalam bernavigasi.

TIM DELIMITASI BATAS MARITIM INDONESIA LAKSANAKAN PERUNDINGAN DENGAN MALAYSIA

Bandung, 6 Maret 2018 — Bertempat di Crowne Plaza Hotel Bandung Jawa Barat, kelanjutan perundingan batas maritim Indonesia – Malaysia yang sudah berlangsung lebih dari 12 tahun dimulai kembali, Selasa (6/3).

Perundingan delimitasi kedua negara ini, diawali dengan pertemuan tim teknis Indonesia dan Malaysia melalui forum Technical Working Group (TWG). Pada perundingan kali ini, delegasi Indonesia dipimpin oleh Padmasari dari BIG dan delegasi Malaysia dipimpin oleh Azhari Mohamad dari Jabatan Ukur dan Pemetaan Malaysia (JUPEM).
Adapun komposisi delegasi Indonesia terdiri dari perwakilan dari Badan Informasi Geospatial (BIG), Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Mabes TNI dan Pushidrosal sebagai tim teknis yang merupakan ujung tombak dalam perundingan batas maritim.

Pada kesempatan perundingan kali ini, dilaksanakan pembahasan detail tentang usulan kedua pihak terhadap delimitasi batas maritim di Laut Sulawesi di segmen perairan Pulau Sebatik, khususnya pembahasan tentang proposal posisi Provisional Common Point (PCP) Indonesia dan Malaysia, pembahasan transpormasi koordinat yang telah disepakati tahun 1969 segmen Laut China Selatan dan pembahasan segmen Selat Malaka bagian selatan.